Pengembangan Hutan Tanaman Jati


Berdasarkan data diketahui bahwa kayu jati sebagian besar ditanam di dalam cakupan distribusi alaminya yaitu pada 30oLU– 30oLS, atau pada area yang mempunyai kondisi tanah dan iklim yang serupa dengan daerah tropis tersebut.

DASAR PEMILIHAN TANAMAN JATI

 KUALITAS LAHAN

Kualitas  lahan  mempunyai  pengaruh  yang  kuat  pada  pertumbuhan,  perkembangan  dan mutu kayu perkebunan kayu jati. Produktivitas suatu perkebunan dapat ditingkatkan secara nyata dan daur/rotasi dapat dikurangi melalui pemilihan lokasi yang sesuai.
 
1. TANAH
 
Kayu jati tumbuh terbaik pada tanah yang solumnya dalam, baik drainasenya, tanah-tanah endapan (alluvial) dari batuan induk kapur (limestones) dan beberapa turunan batuan induk vulkanis, seperti tanah basal dengan kandungan calcium yang tinggi, dan bahan organik, pH tanah 6.5– 7.5.
 
2. Curah Hujan dan Kelembaban
 
Kayu jati tumbuh secara alami meliputi areal dengan kondisi iklim yang luas, mulai dari daerah yang sangat kering (curah hujannya 500 mm/year) sampai dengan daerah yang sangat lembab (curah hujan di atas 5,000 mm/year). Pertumbuhan jati yang optimal dan produksi kayu dengan kualitas yang tinggi, terjadi pada daerah dengan curah hujan tahunan
1,200 - 2,500 mm dan musim kemarau 3– 5 bulan.
 
 
3. Cahaya
 
Jati termasuk tanaman pioner, membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang dengan  baik.   Intensitas cahaya yang optimal  untuk  pertumbuhan  dan perkembangan jati berkisar antara 75 – 90%.
 
PLANTING MATERIALS

Keberhasilan program penanaman tidak hanya ditentukan oleh kualitas lahan saja tapi juga kualitas genetik bibit yang digunakan.  Kualitas bibit yang baik (berasal dari areal produksi benih, kebun benih dan pohon plus) memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan pertumbuhan dan kualitas kayu.   Produksi dapat ditingkatkan 5 – 25%, tergantung pada sumber benih/bibit dan kualitas lahannya.   Tanaman yang berasal dari hasil kultur jaringan pertumbuhannya seragam dan lurus dengan sedikit cabang sehingga memudahkan dalam pemeliharaan (hanya sedikit membutuhkan tenaga untuk prunning).

MANAGEMEN SILVIKULTUR

Keberhasilan perkebunan jati selain ditentukan oleh kualitas lahan, bibit yang digunakan juga pengelolaan perkebunannya (silviculture).  Peranan silviculture ini sangat besar dalam menyesuaikan kondisi lahan dengan persyaratan yang diperlukan jati untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Secara umum manajemen silvikultur meliputi persiapan lahan, pengaturan jarak tanam, pemupukan, penyiangan, perlindungan terhadap kebakaran, perlindungan hama dan penyakit, serta penjarangan.

 

1. Penyiapan Lahan
Pada dasarnya persiapan lahan dimaksudkan untuk menciptakan kondisi lahan yang mendukung keberhasilan penanaman dan pertumbuhan bibit. Persiapan lahan meliputi: pembukaan lahan, pengolahan tanah, pembuatan lubang tanam yang disesuaikan dengan pengaturan jarak tanam, pembuatan jalan untuk pemeliharaan dan panen. Persiapan lahan dapat dilakukan secara manual atau mekanik.
 
2. Jarak Tanam
Jarak tanam awal perkebunan jati bervariasi dari 2 x 2 m sampai 4 x 4 m, tergantung banyak faktor seperti kualitas lahan dan penjarangan yang akan dilakukan. Namun kualitas lahan yang paling utama sebagai dasar dalam penentuan jarak tanam dalam program penanaman jati. Jarak tanam 3 x 3 m (1,100 pohon/hektar) yang paling sering digunakan dan direkomendasikan di Thailand
 
3. Penanaman
Waktu penanaman yang paling tepat adalah awal musim hujan.
 
4. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan yang paling utama adalah pengendalian gulma karena bibit jati tidak mampu bersaing dengan gulma pada awal pertumbuhannya (tahun-1), terutama  pada lahan yang banyak ditumbuhi alang-alang.
Penyakit utama jati adalah penyakit layu dan penyakit jamur upas. Pencegahan yang disarankan   untuk  mengendalikan   penyakit  ini,   adalah   pembuatan  drainase   yang   baik sehingga lahan tidak akan terlalu basah dan menjaga kesehatan  tanaman  secara  umum. Pada serangan penyakit yang masih baru/awal dapat disemprot dengan fungisida dan jika serangan telah lanjut, pohon ditebang dan dibakar untuk mencegah penyebaran.
 
 
5. Penjarangan dan Panen
Penjarangan dapat dilakukan pada umur 5 - 11 tahun setelah tanam, tergantung pada jarak tanam awalnya dan kualitas lahan.   Panen dilakukan pada umur 15 tahun atau lebih, disesuaikan dengan kualitas dan harga jual kayu yang diinginkan.  Semakin tua umur panen, kualitas dan harga kayunya akan lebih tinggi.

 

Pagerank
Copyright © 2012 www.jatimirah-jayadwipa.com